SELAMATKAN CILENGKRANG


SELAMATKAN CILENGKRANG
oleh: Andi Nuwabagong

sebagai bahan pertimbangan terjadi pada sabtu 15 Januari 2011:










Pencanangan Kabupaten Kuningan sebagai Kabupaten konservasi oleh bapak H. Aang Hamid Suganda selaku Bupati Kuningan merupakan sesuatu hal yang sangat positif dan patut kita dukung bersama, hal ini dapat kita lihat dengan dilakukannya berbagai program dalam rangka
mewujudkan Kuningan sebagai kabupaten Konservasi diantaranya penghijauan di lahan-lahan kritis di berbagai tempat, pembangunan kebun raya, penutupan galian C, dan lain-lain.
Keindahan alam Kabupaten Kuningan dan kawasan Gunung Ciremai dengan segala pesonanya merupakan salah satu tujuan wisata favorit khususnya di wilayah eks karesidenan Cirebon.
Dalam menyikapi potensi pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata yang cukup menjanjikan maka pemerintah Kabupaten Kuningan semakin giat memaksimalkan obyek-obyek wisata yang telah ada dan menggali potensi wisata baru. Kawasan wisata Lembah.Yang berlokasi dihulu sungai Cilengkrang merupakan salah satu obyek wisata baru yang cukup menjanjikan,sumber air panas alami dan air terjun yang terdapat disana merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Akan tetapi pada kenyataannya, keberadaan obyek wisata dihulu sungai cilengkrang tersebut banyak hal yang terabaikan misalnya dalam penetapan kawasan hulu sungai Cilengkrang sebagai tujuan wisata nampak sekali tidak memperhitungkan dampak buruk maupun bahaya yang kemungkinan terjadi. Menurut pandangan kami, lokasi tempat berkumpulnya/konsentrasi wisatawan yang didalamnya terdapat kolam pemandian air panas, wc umum, pendapa, mushala dan lain-lain yang berada di hulu sungai dan merupakan area aliran sungai Cilengkrang tersebut merupakan zona bahaya, tebing yang tinggi dan sangat curam di sisi kiri dan kanan lokasi tersebut akan sangat menyulitkan proses evakuasi apabila terjadi air bah, belum lagi bahaya longsor yang sewaktu-waktu sangat mungkin terjadi dan mengancam keselamatan jiwa para pengunjung. Lokasi obyek wisata yang berada tepat di hulu sungai Cilengkrang juga sangat berpotensi menimbulkan pencemaran terhadap air sungai yang merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat
yang berada di sekitar aliran sungai tersebut yang selama ini memanfaatkan aliran sungai tersebut sebagai sumber air minum untuk kelangsungan hidup sehari-hari. Dalam hal ini setidaknya ada 3 (tiga) desa yang sudah sejak lama secara turun temurun memanfaatkan aliran sungai cilengkrang untuk memenuhi kebutuhan baik untuk pertanian perkebunan dan yang terpenting sebagai sumber utama air minum. Desa-desa tersebut adalah Desa Sukamukti Kecamatan Jalaksana, Desa Pajambon dan Desa Gandasoli Kecamatan Karamatmulya.
Kami juga menengarai adanya keganjilan, entah dengan pertimbangan apa dalam proses perencanaan hingga ditetapkannya kawasan hulu sungai Cilengkrang menjadi obyek wisata, pihakpihak berwenang/penentu kebijakan hanya melibatkan masyarakat desa Pajambon, padahal dalam hal ini setidaknya harus melibatkan masyarakat desa Sukamukti dan Gandasoli yang akan merasakan dampak langsung apabila terjadi pencemaran dihulu sungai Cilengkrang.
Jangankan dilibatkan secara langsung bahkan dimintai pendapatpun tidak. Seiring dengan semakin banyaknya pengunjung semakin besar pula potensi pencemaran sungai Cilengkrang, maka sangat beralasan apabila akhir-akhir ini masyarakat merasa resah dengan keberadaan obyek wisata dihulu sungai Cilengkrang, karena selama ini aliran air sungai Cilengkrang merupakan sumber air minum satu-satunya bagi sebagian besar masyarakat khususnya bagi masyarakat ketiga desa
tersebut diatas.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka kami meminta kepada pihak-pihak yang berwenang dan pihak terkait lainnya untuk bersama-sama sesegera mungkin meninjau kembali keberadaan obyek wisata lembah cilengkrang tersebut sebelum tragedi yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Kawasan hulu sungai Cilengkrang sebaiknya ditutup dan tidak dijadikan obyek wisata, biarkan kawasan hulu sungai Cilengkrang tersebut kembali seperti sebelumnya sebagai hutan belantara/area konservasi.
Apabila memang obyek wisata di kawasan sungai Cilengkrang harus tetap ada dengan pertimbangan potensi pendapatan negara maupun daerah dari sektor pariwisata yang cukup menjanjikan, maka lokasinya mutlak harus dipindahkan atau digeser lebih kehilir, tidak berada di area hulu dan tidak di area aliran sungai. Serta dalam setiap tahapan proses harus dilakukan dengan pertimbangan matang dilihat dari berbagai aspek, terutama menyangkut resiko yang mungkin terjadi.
Pihak-pihak berwenang dalam hal ini Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) dan Pemerintah Kabupaten Kuningan, serta pihak-pihak terkait lainnya dimohon untuk berpihak kepada kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup, tidak berorientasi pada retribusi, apalah artinya retribusi jika menghancurkan kawasan konservasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s