Teori Etika Lingkungan


Teori Etika Lingkungan Biosentrisme

Biosentrisme mengagungkan nilai kehidupan yang ada pada ciptaan, sehingga komunitas moral tidak lagi dapat dibatasi hanya pada ruang lingkup manusia. Mencakup alam sebagai ciptaan sebagai satu kesatuan komunitas hidup (biotic community).
Inti pemikiran biosentrisme adalah bahwa setiap ciptaan mempunyai nilai intrinsik dan keberadaannya memiliki relevansi moral. Setiap ciptaan (makhluk hidup) pantas mendapatkan keprihatinan dan tanggung jawab moral karena kehidupan merupakan inti pokok dari konsern moral. Prinsip moral yang berlaku adalah “mempertahankan serta memlihara kehidupan adalah baik secara moral, sedangkan merusak dan menghancurkan kehidupan adalah jahat secara moral” (Light, 2003: 109).
Biosentrisme memiliki tiga varian, yakni, the life centered theory (hidup sebagai pusat), yang dikemukakan oleh Albert Schweizer dan Paul Taylor, land ethic (etika bumi), dikemukakan oleh Aldo Leopold, dan equal treatment (perlakuan setara), dikemukakan oleh Peter Singer dan James Rachel.
The Life Centered Theory
The life centered theory adalah teori lingkungan yang berpusat pada lingkungan. Teori yang dikemukakan oleh Albert Schweizer, mengajukan empat prinsip etis pokok, yaitu : manusia adalah anggota dari komunitas hidup yang ada di bumi ini, bumi adalah suatu sistem organik dimana manusia dan ciptaan lain saling berkaitan dan bergantung, setiap ciptaan dipersatukan oleh tujuan bersama demi kebaikan dan keutuhan keseluruhan, dan menolak superioritas manusia dihadapan makhluk ciptaan lain (Paul, dalam Light – Holmes Rolston III, 2003: 74-84, BASIS: 12-14).
Semua makhluk hidup dalam bionsentrisme adalah anggota dari komunitas hidup, dalam arti bahwa setiap ciptaan berhak diperlakukan dengan baik secaramoral. Manusia sebagai pelaku atau subjek moral harus memperlakukan dengan baik dan tangging jawab moral terhadap makhluk lainnya.
The Land Ethic (etika bumi)
The Land Ethic (etika bumi) Teori etika bumi yang dikemukakan oleh Aldo Leopold menjadi teori etika lingkungan klasik pada abad ini. Etika bumi menekankan pentingnya keutuhan ciptaan dan bahwa setiap ciptaan merupakan bagian integral dari komunitas kehidupan (Light-Holmes III, 2003:39/BASIS:2007:edisi 05-06:12-13). Bumi dan segala isinya adalah subjek moral yang harus dihargai, tidak hanya alat dan objek yang bisa dimanfaatkan manusia sesuka hati karena bumi bernilai pada dirinya sendiri.
Teori etika bumi menekankan bahwa keutuhan seluruh makhluk ciptaan tidak bertentangan dengan kepentingan masing-masing ciptaan. Aldo Leopold mengatakakan bahwa tugas manusia untuk menata dan memelihara sehingga kepentingan manusia sebagai bagian dari komunitas kehidupan bisa sejalan dan tidak bertentangan dengan kebaikan seluruh kebaikan komunitas kehidupan. Prinsip moral menurut Leopold adalah bahwa setiap tindakan akan banar secara moral jika melindungi dan mengupayakan keutuhan, keindahan, dan stabilitas seluruh komunitas kehidupan (Palmer dalam Light, 2003:24, BASIS : 12-14). Manusia harus berhenti mengeksploitasi, merusak makhluk ciptaan lain karena tindakan ini akan merusak keutuhan, stabilitas, keindahan ciptaan alam.

Equal Treatment (perlakuan yang setara)
Equal treatment (perlakuan setara/sama) Equal treatment dikenal sebagai anti spesiesisme yang dikemukakan oleh Peter Singer dan James Rachel. Anti spesiesme adalah sikap membela kepentingan dan kelangsungan hidup semua spesies di bumi karena didasarkan pada mempunyai hak hidup yang sama dan pantas mendapatkan perlindungan dan perhatian yang sama.
Peter Singer mendasarkan teorinya kepada prinsip moral perlakuan yang sama dalam kepentingan. Perlakuan yang sama dalam relasi anta manusia didasarkan pada pertimbangan bahwa manusia mempunyai kepentingan yang sama. Kesadaran dan tanggung jawab moral sangat penting terhadap makhluk ciptaan bukan manusia. Tanggung jawab dan pertimbangan moral berlaku bagi seluruh komunitas kehidupan. Prinsip moral harus konsisten diterapkan dalam seluruh komunitas kehidupan demi kebaikan keseluruhan komunitas kehidupan.
Sumber: Ekawati, Nirmala. 2009. Deep Ecology Sebagai Dasar Mengatasi Permasalahan Illegal Logging di Indonesia. Hal 80-83. Skripsi Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Ekosentris, Ekologi, dan Ekosistem
Pembicaraan tentang lingkungan hampir tidak lepas dari terminologi ekosentris, ekologi, dan ekosistem, tetapi banyak orang seringkali menganggap dirinya tahu arti terminologi tersebut. Akibat dari itu maka terminologi tersebut seringkali digunakan secara sembarang untuk membicarakan tentang lingkungan. Padahal, ada perbedaan yang seharusnya diketahui untuk memperjelas apa maksud dari pembicaraan tentang lingkungan. Pertama harus diuraikan dulu ketiga terminologi tersebut.
Ekosentris, kesalahan pemakaian terminologi ini relatif sedikit oleh karenanya hanya perlu dipahami artinya bahwa ekosentris adalah suatu pandangan tentang lingkungan yang memihak pada oikos (eko = rumah = lingkungan = alam). Segala pandangan harus cocok, selaras dan tidak bertentangan dengan alam. Misalnya ketika menghadapi persoalan mana yang harus dipilih membuat rumah baru dari kayu dari sebuah pohon atau memilih pohon itu tetap tumbuh, orang yang berpandangan ekosentris tidak akan menebang pohon tersebut untuk membangun sebuah rumah.
Kedua yaitu ekologi, terminologi ini yang paling sering orang salah kaprah. Ekologi seringkali dikaitkan dengan, misalnya, “penebangan pohon secara sembarangan akan menyebabkan krisis ekologi,” atau “ekologi di Indonesia berangsur-angsur memburuk terlihat dari tercemarnya banyak sungai sehingga mematikan kehidupan di sekitarnya,” dan masih banyak lagi. Harus disadari pertama-tama bahwa penggunaan terminologi ini sangat penting untuk mencapai kesepakatan makna tentang pembicaraan mengenai lingkungan. Ekologi berasal dari dua kata oikos (eko = rumah = lingkungan = alam) dan logos (logi = pengetahuan tentang = ilmu yang mempelajari = pemikiran logis) jadi ekologi dapat diterjemahkan sebagai suatu ilmu yang mempelajari alam atau lingkungan beserta komponen yang ada di dalamnya. Perlu ditekankan di sini bahwa ekologi adalah suatu bidang ilmu. Penggunaan yang benar atas terminologi ekologi dapat dicontohkan “tidak pahamnya masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan dapat disebabkan karena tidak adanya pendidikan ekologi,” atau “ekologi akhir-akhir ini menjadi suatu bidang yang diminati karena permasalahan lingkungan mulai menjamur dan sering didiskusikan.”

Ketiga yaitu ekosistem. Banyak orang menganggap bahwa ekologi dan ekosistem itu adalah sepadan dan sama padahal kenyataannya tidak. Jika dilihat dari terminologinya saja sudah terlihat bahwa kata ekologi dan ekosistem berbeda. Bedanya di eko-logi dan eko-sistem, yang satu logi yang lain sistem. Tetapi entah mengapa terminologi sejelas itu masih banyak yang salah kaprah sehingga banyak orang lebih memilih menggunakan terminologi ekologi untuk menjelaskan ekosistem. Ekologi sudah dijelaskan di atas, sekarang ekosistem. Ekosistem adalah suatu keterkaitan lingkungan tertentu beserta isinya dengan lingkungan lainnya yang apabila salah satunya rusak maka akan menyebabkan pengaruh buruk bagi yang lain. Penggunaan kata yang salah terdapat pada pernyataan “penebangan pohon secara sembarangan akan menyebabkan krisis ekologi,” mengapa? coba terka apakah penebangan hutan secara sembarangan akan menyebabkan ilmu tentang lingkungan makin terpuruk? Tentu tidak, justru besar kemungkinan muncul reaksi yang menyebabkan ilmu tentang lingkungan makin digali. Pernyataan yang benar adalah “penebangan hutan secara sembarangan akan menyebabkan krisis ekosistem,” karena memang benar bahwa penebangan pohon dapat membuat binatang di pohon tersebut menjadi kehilangan tempat tinggal dan hal ini berarti ada keterkaitan antara pohon dan binatang tersebut.
Akhirnya jelas perbedaan antara ekosentris, ekologi, dan ekosistem. Hal ini penting untuk membangun wawasan dalam penggunaan terminologi dan tentu saja penting bagi pendidikan ekologi itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s