GUNUNG GUNTUR Fenomena Sampah


Sudah menjadi rahasia umum bahwa para pendaki gunung (sebagian tentu saja; bolehlah dibilang para oknum) membuang sampah seenaknya saat mendaki gunung. Tumpukan sampah setelah peristiwa besar seperti Tahun Baru atau Hari Kemerdekaan yang dirayakan di puncak-puncak gunung, dilaporkan dari berbagai gunung yang favorit didaki: G. Gede, G. Semeru, G. Rinjani, dan sebagainya. Berita tahun lalu atas posting seorang pendaki yang menurutnya sah-sah saja membuang sampah karena sudah membayar mahal tiket masuk, dikecam dimana-mana. Mana tanggung jawab dengan atribut “pecinta alam” kalau kelakukan masih jahiliyah seperti itu? Begitu pula gerakan para pendaki bule yang memunguti sampah sepanjang jalur pendakian G. Rinjani menohok kita semua. Kok orang asing lebih peduli dengan kebersihan daripada kita sendiri? Kita juga tersinggung berat ketika ada bule yang bicara pedas tentang mental kita membuang sampah, seperti kasus “the city of pigs” di Bandung beberapa tahun yang lalu. Kelihatannya sebagian dari kita merasa tidak berdosa ketika dengan santainya membuka bungkus permen, kue, atau rokok kemudian melemparnya begitu saja sambil jalan. Botol air kemasan yang ketika penuh dibawa di ransel kita, setelah kosong dan ringan malah dibuang. Di jalan, dari jendela mobil, bahkan di mal, apalagi di jalan setapak gunung-gunung. Seorang anak kecil yang memang merasa tidak berdosa karena kepolosannya membuang sampah di halaman toko, dibiarkan saja oleh orang tuanya. Tanpa ditegur atau diberi contoh. Yah orang tuanya memang begitu juga mungkin mentalnya.
Namun ternyata masih ada harapan. Namun harapan itu masih bercampur dengan keprihatinan. Harapan dan keprihatinan itu terjadi saat mendaki G. Guntur, di Garut, Jawa Barat, saat merayakan Hari Kemerdekaan di salah satu puncak Kompleks Guntur, Paruhpuyan +2.145 m dpl. Sebuah komunitas yang bernama Jalan Setapak tiba-tiba meminta saya untuk menjadi pembina upacara memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-70. Mereka menyiapkan tiang bendera, dan pemimpinnya membisiki kepada saya untuk memberi sedikit pidato dengan diakhiri himbauan supaya membersihkan sampah setelah upacara selesai. Alhamdulillah, upacara sederhana diikuti para pendaki yang sedang berada di Puncak Paruhpuyan berlangsung khidmat. Sambil mengelilingi tiang bendera Sang Saka Merah Putih yang berkibar, lagu Indonesia Raya terdengar lantang dinyanyikan lebih dari 100 mulut. Lalu gerakan membersihkan sampah segera dilakukan dimotori komunitas Jalan Setapak itu. Dalam perjalanan turun gunung, para anggota komunitas itu masing-masing sudah berhasil membawa tas plastik hitam besar berisi sampah yang mereka punguti. Rupanya tidak hanya mereka. Beberapa pendaki individual atau kelompok-kleompok kecil, membawa kembali sampah mereka. Di pinggang mereka terikat botol-botol plastik air kemasan kosong. Sebuah komunitas lain lebih serius dengan menamakan mereka Gerakan “Gunung Bukan Tempat Sampah.” Keseriusan mereka ditandai dengan para anggotanya yang berpenutup ransel seragam dengan tulisan “Gunung Bukan Tempat Sampah” disertai kantung plastik yang bertulisan sama. Sepanjang jalan mereka rajin memunguti sampah-sampah, terutama sampah plastic. Di Kampung Citiis, awal pendakian, sebuah baligo besar terpampang sangat mencolok juga bertuliskan: GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH. Namun, di sinilah keprihatinan itu muncul. Masih banyak pendaki yang tidak peduli. Tisu-tisu basah (jenis yang menjijikan, yang para pendaki pemungut sampah pun kelihatan enggan memungutnya), berserakan di sekitar tempat mereka berkemah. Belum lagi sampah bekas makanan dan minuman yang umumnya berbahan plastik. Konyolnya, kaleng gas atau spiritus yang sudah habis tampak dibuang pula seenaknya. Dan hal yang lebih menyedihkan lagi adalah saat jalur turun tiba di Curug Citiis. Penduduk setempat pintar menangkap peluang dengan membuka lapak menjual berbagai makanan ringan dan minuman, mulai dari gorengan tahu, bala-bala, es jus hingga teh atau kopi panas. Lalu… waduuuh! Sampahnya ditumpuk berserakan di sekitar warung di tepi aliran sungai Ci Tiis. Kotor. Tak ayal, sampah-sampah plastik itu masuk ke aliran sungai! Saat para aktivis tiba di tempat ini, terlihat wajah mereka berubah keruh. Saya mengerti mereka bukan petugas kebersihan, sehingga mereka berlalu begitu saja melewati tumpukan sampah yang diproduksi lapak-lapak itu. Bagaimana mungkin mengeruk sampah yang bertumpuk itu. Dari fakta ini, rupanya para pengotor dan penyampah di gunung itu sebagian besar disumbang oleh para penduduk setempat! Saya salut untuk para pendaki yang sebagian besar sudah peduli dengan kebersihan, meskipun sebagian lainnya belum (biasanya para pemula atau pendaki penggembira saja). Tinggal gerakan itu selain ditujukan kepada para pendaki, harus mulai menyentuh para penduduk setempat yang buka lapak di lereng-lereng gunung. Tetap semangat. Keep our mountain clean!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s